update post

Adbox

Jumat, 17 April 2026

ETERNAL SUFFERING Yang selalu dirindukan Reuniannya

ETERNAL SUFFERING Yang selalu dirindukan Reuniannya

Kalau masih ada yang mengira semua band lama cuma hidup dari kenangan dan kaos jadul, mungkin nama ETERNAL SUFFERING bisa jadi tamparan kecil yang cukup menyakitkan. Bukan karena mereka masih aktif bikin gebrakan, tapi karena apa yang mereka tinggalkan itu terlalu " niat " untuk sekadar dilupakan. Berasal dari Daerah Kingston, Massachusetts, Amrik. unit ini muncul sejak 1994 (dengan nama awal Disgorge, iya, sebelum nama itu jadi rebutan secara global), lalu berevolusi jadi ETERNAL SUFFERING. Dan seperti banyak band yang lahir di era itu, mereka tidak datang untuk terdengar manis. Mereka datang untuk menghajar tapi dengan gaya tersendiri dengan mengadopsi sentuhan kuat NYDM. Yang bikin menarik, mereka tidak sekadar bermain death metal lurus tanpa arah. Ada suntikan groove khas slam yang Ajojing, tapi santai dulu, ini bukan slamming yang cuma andalkan breakdown murahan. Ini groove yang punya bobot, yang bikin kepala otomatis goyang tanpa harus kehilangan intensitas brutalnya. Kombinasi ini yang bikin mereka punya identitas, bukan sekadar jadi band lain di lautan distorsi. Secara musikal, mereka punya pendekatan yang cukup cerdas: brutal tapi tetap terasa " ngunci ". Riff-nya berat, ritmenya mengikat, dan groove-nya tidak terasa dipaksakan. Jadi bukan cuma soal cepat atau keras, tapi bagaimana semua elemen itu dikemas biar tetap punya impact. Dan ya, itu sesuatu yang tidak semua band bisa lakukan meskipun banyak yang sok mencoba. Kalian tau kan jaman now yang kekianian, banyak band sibuk menambahkan label " slam ", " brutal ", atau " technical " di depan nama genre mereka biar terdengar keren. Eternal Suffering? Mereka sudah melakukan itu semua tanpa perlu sibuk menjelaskan diri. Hasilnya jelas ! mereka mungkin tidak selalu jadi headline besar, tapi untuk yang benar-benar paham, nama ini tetap punya tempat khusus. Karena pada akhirnya, yang bertahan bukan yang paling ramai dibicarakan, tapi yang paling terasa nempel kuat di kepala.

Perkenalan dimulai tahun 1995 dengan " 10/7/95 Rehearsal Tape " rilisan kaset pita dengan cover sederhana cuman photocopian, masih menampilkan formasi pertama yang membentuk band, diantaranya sudah almarhum, kayak Bassis Chris Glover (Meninggal tahun 2023), Drummer Chad Connell, Gitaris Brian Evans (Meninggal tahun 2019) dan Vocalis Wayne Sarantopoulos. selang 1 tahun kemudian demo ke-2 " Demo 1996 " masih dirilis Independen, namun covernya sudah meningkat menggunakan kertas warna, direkam di Ultrasound in Hanover, Massachusetts. kemudian tahun 1997 band ini merilis secara Independen Demo ke-3 dalam format CD yang dicetak terbatas 500 kopi saja dengan artwork cover yang sama sekali menjauh dari kesan " Gahar ". Demo lama ini adalah sebuah karya luar biasa dari brutal death metal old school. Band ini menggabungkan vokal yang keren, riff gitar yang beratmosfir gelap dan brutal, serta cabikan bass yang luar biasa dan drumming yang powerfully pada waktu itu. Eternal Suffering menghasilkan sound unik yang luar biasa, menggunakan jeda gitar yang menonjol sehingga gitar bass lebih mentereng, dan memperlambat seluruh beat lagu hingga merayap dengan menakutkan. " Remain Forever In Misery " adalah sebuah tonggak dalam genre brutal death metal, memberikan blueprint yang baik untuk genre ini, terutama riff slam groovy yang lambat dan berat. Musik di Demo ini memancarkan nuansa suram, kemarahan, dan keputusasaan. Melintasi ke dalam death-doom di beberapa area, demo ini menghasilkan dinding kesatuan horor dan isolasi internal. Musiknya berjalan lambat, lalu tiba-tiba berhenti, membusuk dalam kesengsaraan dan penderitaannya sendiri. Benar-benar menghancurkan. yang membutuhkan lebih banyak perhatian bukan hanya karena suaranya yang unik, tetapi juga karena betapa berpengaruh dan hebatnya musiknya. Produksi demo ini sudah terdengar keren dieranya untuk sebuah rilisan independen, dengan bass, gitar, vokal, dan drum semua duduk dengan nyaman dalam mixing. nama Eternal Suffering jelas mendapat sundulan signifikan atas lebih luasnya peredaran demo ini, puncaknya kontrak kerjasama bareng Extremities Productions, Label Death Metal keren diera-nya dari California yang memperkenalkan nama Disgorge, Gorgasm untuk pertama kalinya, sebelum menjadi bagian dari Repulse Records untuk kawasan Amrik, label ini keburu tutup buku. Debut full album " Drowning in Tragedy " Adalah Puncak Karir EternaL Suffering namanya diperhitungkan scene dunia death metal. materinya sendiri digarap di Tritricon Studios, Avon, CT bareng Jason Suecof-nya Capharnaum sukses membuat materinya Eternal Suffering semakin Berkilau dengan karakteristiknya. Dibiayai sepenuhnya oleh Scenester Legendaris John Dwyer yang sebelumnya adalah boss dari Pathos Productions dan Melted Productions juga Mantan pembawa penyiar radio " The Metal Cage (WRIU 90.3) " dari tahun 1994 hingga 2000. 

" Drowning in Tragedy " adalah jenis album yang akan membuat kalian sedih karena saking bagusnya. Ini adalah jenis album yang bisa saja menjadi klasik kecil, ada di era pembentukan dan memiliki sound yang mengaburkan batasan subgenre dan mendorong death metal ke realm yang lebih brutal, tetapi tidak memiliki kekuatan atau pengakuan yang hampir sama dengan yang didapat Disgorge dan Gorgasm, meskipun mereka adalah satu-satunya band lain yang pernah ditandatangani oleh Extremities Productions yang berumur pendek. Bahkan Dripping memiliki lebih banyak hype bawah tanah daripada ini, w rasa Eternal Suffering membutuhkan lebih banyak pengaruh hip-hop atau judul lagu yang lebih aneh atau semacamnya. Pertama-tama, This Heavy!!!. Benar-benar sangat berat. Nada gitar memotong seperti batu bata, bergemuruh dan besar, menyatu dengan nada bass yang dalam, entah bagaimana mengatasi perpaduan yang tenang dengan kekuatan kasar yang murni. Dan petikannya sangat bersih! Cara proto-slam meluncur ke dalam otak kalian tanpa usaha dan segera membuat kalian seperti masuk ke mode manusia gua, dan kalian merasakan setiap tremolo kecil selama momen-momen yang lebih cepat, dengan beberapa petunjuk gaya langkah tersendat yang lezat yang mendefinisikan band-band seperti Decapitated dan Soreption. Pada awalnya itu tidak masuk akal, tetapi kemudian w melihat siapa yang menggarap album ini, tidak lain adalah Jason Suecof. Jumlah kekuatan murni yang mampu dia ekstrak dari suara grup ini mungkin salah satu alasan mengapa dia menjadi nama rumah tangga sebagai produser saat ini. Slam bahkan belum sepenuhnya ada (sekarang entah kenapa menjadi Slamming, Type genre yang cenderung membosankan!), tetapi mereka menangkap apa yang membuat slam bagus dengan sangat sempurna dengan chugs hardcore raksasa mereka yang memberikan jeda dari bagian ledakan dan tremolo yang mengguncang. Cara mereka bisa beralih dengan cepat dari merobek wajahmu pada 240bpm ke kekuatan brutal yang mengesankan dan sangat menyenangkan untuk didengarkan. Drumnya juga ketat, dengan banyak pekerjaan snare yang sangat cepat sambil tetap mempertahankan groove gaya NYHC yang solid selama bagian lambat, dengan banyak gerakan kaki yang menarik di bawahnya.

Tahun 2010 Eternal Suffering kemudian merilis EP " Echo of Lost Words " via label asal Rusia, Inherited Suffering Records milik Alexander Kubiashvili-nya Abominable Putridity telah membuat perhitungan ke-2 meski respon-nya tidak sehangat materi full albumnya. EP ini adalah Enam lagu pertama dalam awalnya direncanakan untuk dirilis pada tahun 2001 sebagai bagian dari split bareng Vomit Remnants. Pemisahan tersebut, yang seharusnya dirilis oleh Extremities Productions, namun akhirnya dibatalkan. Materi EP digarap di Primitive Recordings dengan materi yang terdengar lebih cepat dengan sound yang lebih menggeser ke modern DM style rasanya, bagus sih namun sayang debut EP ini justru menjadi materi perpisahan band untuk menguburnya hidup hidup ditengah kesibukan aktifitas band-nya. Skill bermain drummer Chad Connell emang jadi poin sorotannya mungkin, dengan teknik dan skill mumpuni meski pengalaman ngeband brutalnya hanya di Eternal Suffering semata wayang namun sentuhannya paling memorable banget gess !

Karena Rilisan rilisan sebelumnya sempat menjadi Rare dikalangan kolektor, akhirnya Pathos Production tahun 2011 merilis " Recollections of Tragedy & Misery ", Versi Digipak, Remastered dan Limited edition dari 2 materi demo " Remain Forever in Misery " dan Album " Drowning in Tragedy " akhirnya menjadi pelepas dahaga diehard fans-nya. w benar-benar berpikir bahwa siapa pun yang menyukai brutal death metal dan deathcore harus memperhatikan band ini. Itu terlalu singkat tapi betapa bagusnya! kepiawaian musik mereka sangat mengesankan, dan mereka sangat mahir mengintegrasikan bagian mosh yang menghukum (istilah yang saya gunakan untuk secara kolektif menggambarkan slams, breakdowns, dan beatdowns) ke dalam basis mereka yang sangat brutal mirip NYDM. Musik mereka sama sekali tidak pretensius: rasanya mereka benar-benar menikmati apa yang mereka lakukan dan ingin orang lain ikut bersenang-senang. Kompilasi ini diakhiri dengan dua lagu bonus, "Addicts Are Weak" dari demo mereka tahun 1996, dan "J.D.S" yang merupakan lagu yang sebelumnya belum pernah dirilis dan hadir dalam edisi terbatas digipak. Sebuah hadiah yang bagus untuk fans diehard setia mereka, bertahun-tahun setelah bubar!

Discography

* 10/7/95 Rehearsal Tape ' Demo 1995      
* Demo 1996 ' Demo 1996      
* Remain Forever in Misery ' Demo 1997     
* Drowning in Tragedy ' Full-length 1999     
* Echo of Lost Words ' EP 2010      
* Recollections of Tragedy & Misery ' Compilation 2011

Remain Forever in Misery ' Demo 1997



Drowning in Tragedy ' CD 1999




Echo of Lost Words ' EP 2010


Tidak ada komentar:

Posting Komentar