MALAMOR - Waiting the Groovy and Brutality
Kalau masih ada yang mengira band death metal itu harus memilih: mau brutal tapi dilupakan, atau catchy tapi kehilangan taring, mungkin mereka belum pernah dengar bagaimana MALAMOR dibentuk. Karena sejak awal, band ini sudah terang-terangan bilang: " kenapa tidak dua-duanya sekalian? " Brutal iya, tapi tetap nempel di kepala. Konsep yang terdengar sederhana dan tentu saja, sulit dieksekusi kalau cuma modal karakteristik. Didirikan tahun 1993 oleh Gitaris Ben Kolts yang kemudian mengajak Vocalis Jason Kolts, yang masih saudara kandungnya, Bassis Dave Markle Bass dan Drummer Shawn Mann, Malamor muncul dari rahim scene New York yang memang terkenal tidak suka basa-basi. Di sana, death metal bukan sekadar genre, tapi semacam bahasa komunikasi: keras, langsung, dan kalau bisa sekalian bikin leher keseleo. Tapi Malamor tidak berhenti di keras saja cukup. Mereka menambahkan elemen groove ala slam khas New York, bukan buat gaya, tapi buat memastikan setiap riff punya daya tarik, bukan sekadar jadi tembok suara tanpa arah.
Masuk ke tahun 1995, mereka merekam demo lima lagu di Applehead Studio, Bearsville, NY, tempat yang mungkin tidak terdengar sakral, tapi cukup untuk melahirkan Demo " Condemn The Rising ". Awalnya? Cuma buat konsumsi klub lokal. Iya, cuma buat lingkaran kecil. Ironisnya, justru dari situ demo ini jadi buruan. Rilisan tahun 1997 lewat Sherlocks Upstate Records langsung ludes 500 kopi kaset dalam hitungan bulan. Di era sekarang mungkin angka itu terlihat " receh ", tapi di masa itu tanpa algoritma, tanpa promosi digital itu tanda satu hal: materi mereka memang bekerja. Dan yang menarik, ini bukan sekadar hype lokal. Lagu-lagu dari demo tersebut mulai muncul di berbagai kompilasi underground. Artinya? Nama mereka mulai menyebar dari mulut ke mulut, cara kuno yang jauh lebih jujur daripada angka streaming hasil playlist buatan sistem.
Lalu masuk fase panggung. Malamor bukan tipe band yang puas latihan di studio sambil menunggu viral. Mereka turun langsung, tampil ratusan kali, dan ini bagian yang sering diremehkan jadi pembuka untuk nama-nama yang tidak perlu diperkenalkan lagi: Deicide, Cannibal Corpse, Fear Factory, Napalm Death, Morbid Angel, Malevolent Creation, Suffocation, Dying Fetus, sampai Immolation. Daftar ini bukan pajangan ini validasi keras dari medan perang sesungguhnya: panggung. Puncaknya? Tahun 2004 mereka merilis full album " Dead To The World " lewat Label asal Jepang yg kala itu terkenal menjadi sarang-nya band Death Metal sangar, Amputated Vein Records. sebagian materi ini direkam ulang dari demo " Condemn the Rising " dan proses rekamannya 5 sebelum dirilis, tahun 1997 di Sabella Studios. menampilkan drummer baru Dave Tetreault yang mengisi untuk lagu " Condemn the Rising ", sebagian masih dimainkan oleh Shawn Mann sebelum cabut. Jadi kalau ada yang bilang mereka telat rilis, ya mungkin lebih tepat disebut: mereka sabar menyimpan amunisi sampai waktunya tepat. Dan seolah belum cukup, album ini juga menampilkan vokal tamu dari Vocalis Frank Mullen-nya Suffocation. Ini bukan sekadar cameo biar terlihat keren. Ini semacam stempel: ya, kalian memang layak diperhitungkan. Setelah itu? Tur bareng Suffocation dan Dying Fetus keliling AS dan Kanada. Lalu lanjut jadi headliner di Jepang, termasuk tiga show di Tokyo. Dari klub lokal ke panggung internasional tanpa harus mengubah DNA mereka. Itu bagian yang sering gagal dilakukan band lain.
Secara musikal, Malamor berdiri di garis tipis antara brutalitas dan groove. Mereka tidak sekadar menghajar, tapi tahu kapan harus " mengunci " pendengar dengan ritme yang bikin kepala otomatis bergerak. Slam yang mereka bawa bukan gimmick, tapi bagian organik dari komposisi. Jadi bukan sekadar berat, tapi juga punya flow. di era sekarang, banyak band sibuk bikin musik se- ekstrem mungkin, tapi lupa bikin sesuatu yang bisa diingat. Malamor sudah menyelesaikan PR itu sejak 90-an. Mereka brutal, iya. Tapi juga memorable. Dan ternyata, itu kombinasi yang jauh lebih langka daripada sekadar cepat dan keras. Malamor bukan band yang lahir untuk jadi legenda besar di headline festival. Tapi mereka adalah tipe band yang diam-diam membentuk fondasi scene yang mungkin tidak selalu disorot, tapi pengaruhnya terasa. Dan kalau masih ada yang meremehkan konsep " groove dalam brutalitas ", mungkin mereka belum benar-benar mendengarkan.
Discography
Condemn the Rising ' Demo 1995
4 Song Advance ' Demo 1998
Dead to the World ' Full-length 2004
Condemn the Rising
<iframe width="790" height="430" src="https://www.youtube.com/embed/nFCk_aNtvTY?si=8O0rmAR14ZYrjSzx" title="YouTube video player" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
Dead to the World
<iframe width="790" height="430" src="https://www.youtube.com/embed/4zoIPr86X8U?si=fMxDXHyS8U0kdvdC" title="YouTube video player" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>






Tidak ada komentar:
Posting Komentar