Top News

Dehumanized - Prophecies Foretold CD 1998

Dehumanized - Prophecies Foretold
Pathos Productions CD 1998

01. Prophecies Foretold 03:46       
02. Kingdom of Cruelty 02:32       
03. Fade into Obscurity 04:22      
04. Solitary Demise 04:00      
05. Infinite Despair 05:05 
06. Doomed to Die (demo) 04:23     
07. Terminal Punishment (demo) 03:43     
08. Condemned (demo) 03:01     
09. Drawn by Blood (demo) 04:42


Jerry Barco - Vocals
Rich Nagasawa - Guitars
Tom Toscano - Guitars
Mike Palacios - Guitars
George Torres - Drums


Akhir dekade 1990-an adalah masa yang menarik bagi Genre Brutal Death Metal alias BDM. Sebuah periode ketika genre ini mulai bercabang ke berbagai arah dengan kecepatan yang hampir tidak masuk akal. Sebagian band memilih jalur teknikal yang semakin rumit, memadukan kompleksitas ala jazz dengan kekejaman death metal hingga pendengar membutuhkan kalkulator ilmiah hanya untuk mengikuti perubahan riff dalam satu lagu. Sebagian lainnya memilih jalur berbeda: lebih sederhana, lebih brutal, lebih langsung ke rahang. Di tengah ledakan tersebut muncullah Dehumanized, unit BDM asal Long Island, New York tahun 1996 dengan formasi yang solid Ketika memperkenalkan demo paling berpengaruh " Terminal Punishment " tahun 1996 seperti : Gitaris Rich Nagasawa (Ablation, ex-Charnel House), Gitaris/Vocalis Mike Palacios dan Drummer George Torres (ex-420, ex-Between Two Evils, ex-Artery Eruption, ex-Skinless, ex-Hiroshima 22) yang mungkin tidak pernah mendapatkan status pionir seperti Suffocation atau Cryptopsy, tetapi berhasil menjadi salah satu representasi paling murni dari apa yang kemudian dikenal sebagai BDM dalam bentuk paling telanjang dan tanpa basa-basi dengan sentuhan karakteristik kuat New York Death Metal aka NYDM. Tidak ada pretensi progresif. Tidak ada pamer kemampuan teknis yang berlebihan. Tidak ada upaya menjadi " lebih pintar " daripada musik itu sendiri. Yang ada hanyalah kekerasan sonik yang dikemas secara efektif dan dihantarkan dengan niat yang sangat jelas: menghancurkan pendengar seefisien mungkin. Ketika banyak band BDM mulai terjebak dalam perlombaan senjata teknikal pada pergantian era milenium, Dehumanized justru mengambil jalur berbeda. Mereka mengurangi unsur teknikal yang menjadi ciri khas Suffocation dan Cryptopsy hingga level minimum dan menggantikannya dengan keseimbangan mematikan antara blast beat dan slam groove. Hasilnya maksimal adalah " Prophecies Foretold ", sebuah album yang hingga hari ini masih dianggap sebagai salah satu karya BDM paling penting dari generasi kedua genre tersebut. Album ini berdiri sejajar dengan rilisan-rilisan penting dari band seperti Mortal Decay, Sepsism, Scattered Remnants, Regurgitation, maupun Pyrexia. Namun yang membuat Dehumanized berbeda adalah kemampuannya menjaga keseimbangan antara kebrutalan dan struktur lagu yang masih dapat dicerna. Karena mari kita jujur. Tidak semua BDM berhasil melakukan itu. Banyak album dalam genre ini terdengar seperti mesin pencacah daging yang dilemparkan ke dalam mixer beton selama empat puluh menit. Berat? Ya. Brutal? Tentu. Menarik untuk didengarkan berulang kali? Belum tentu. Dehumanized memahami bahwa kebrutalan tanpa dinamika hanyalah kebisingan yang mahal.

Sejak lagu pembuka, " Prophecies Foretold " langsung memperlihatkan fondasi musikalnya yang kuat. Pengaruh Cannibal Corpse era awal, Baphomet, Rottrevore, hingga Morpheus Descends terasa sangat jelas, apalagi formasinya makin solid dengan menambahkan Gitaris Tom Toscano dan Vocalis Jerry Barco. Namun album ini tidak pernah terdengar seperti sekadar tiruan murahan dari para pendahulunya. Riff-riff yang dibangun mengandalkan groove khas New York yang kotor, primitif dan ajojing, namun dibalut dengan produksi yang cukup bersih untuk membuat setiap pukulan terasa menghancurkan. Ada aroma hardcore New York yang samar di balik struktur riff mereka, tetapi cukup kecil sehingga tidak menggeser identitas death metal yang menjadi fondasi utama album ini. Salah satu kekuatan terbesar " Prophecies Foretold " adalah kemampuannya menghindari berbagai klise yang kemudian menjadi penyakit kronis BDM modern. Blast beat digunakan sebagai alat, bukan tujuan. Pinch harmonic atau squealies tidak dipakai setiap lima detik hanya karena terdengar brutal. Breakdown hadir ketika paling dibutuhkan. Semua elemen tersebut terasa memiliki fungsi nyata dalam komposisi. Itulah sebabnya ketika bagian Slam muncul, dampaknya jauh lebih besar. Ketika breakdown menghantam, ia terasa seperti tembok beton yang runtuh, bukan sekadar checklist genre. Produksi album juga menjadi salah satu faktor utama keberhasilannya.

Sound gitar terdengar tebal, berdaging, dan penuh tekanan tanpa tenggelam dalam lumpur frekuensi rendah seperti banyak rilisan BDM lain pada masa itu. Karakter produksinya justru lebih dekat kepada gelombang BDM New York dan New Jersey dibandingkan pendekatan ultra-bass yang digunakan oleh Nile atau Malignancy. Snare drum yang memiliki karakter " Trash can " khas era tersebut terdengar tajam namun tidak mengganggu. Sebuah pencapaian yang ternyata lebih sulit daripada yang terdengar. Banyak album BDM gagal memahami batas antara agresif dan menyebalkan. George Torres di balik drum tampil sebagai salah satu pilar utama album ini. Permainannya tidak hanya mengandalkan kecepatan. memahami kapan harus meledak, memahami kapan harus menahan diri dan memahami bahwa groove sama pentingnya dengan kekacauan. Melalui kombinasi blast beat tradisional, double bass yang presisi, roll yang mengalir alami, serta transisi yang sangat halus, Torres menjadi mesin penggerak utama album ini. Bahkan dalam beberapa momen, drum terdengar lebih menarik daripada riff gitar yang mengiringinya. Lagu seperti " Solitary Demise " dan " Infinite Despair " menjadi bukti nyata bagaimana permainan drumnya mampu menjaga momentum album tanpa pernah terdengar repetitif. Namun puncak performanya mungkin hadir dalam " Doomed To Die ". Sebuah lagu yang secara sederhana merangkum seluruh kekuatan Dehumanized. Riff lambat, Groove mematikan, Pinch harmonic yang digunakan secara tepat dan drum yang terdengar seperti serangan artileri berat. Jika seseorang bertanya bagaimana BDM seharusnya terdengar, "Doomed To Die" adalah salah satu jawaban terbaik yang bisa diberikan. Di sektor vokal, Jerry Barco tampil luar biasa. Growl-nya terdengar dalam, kasar, dan penuh tekstur seperti batu kerikil yang digiling menggunakan mesin konstruksi. Karakternya mengingatkan pada Joe Ptacek dari Broken Hope, dengan kedalaman yang cukup untuk mengubur sebagian besar vokalis death metal modern yang terlalu sibuk terdengar ekstrem tetapi lupa bagaimana menciptakan karakter.

Setiap lagu dipenuhi dengan semburan vokal yang terdengar benar-benar kejam tanpa kehilangan artikulasi dasar yang membuatnya tetap efektif. Meski demikian, salah satu kelemahan album memang terletak pada proses mixing. Dalam beberapa bagian, khususnya pada lagu judul " Prophecies Foretold ", vokal Barco sedikit tenggelam di bawah dominasi gitar dan drum. Tidak sampai merusak pengalaman mendengarkan, tetapi cukup terasa bagi pendengar yang memperhatikan detail. Masalah yang lebih besar justru menimpa bass. Dan ini mungkin keluhan klasik hampir seluruh death metal era 90-an. Bass memang ada. Tetapi sering terasa seperti saksi mata yang sengaja disembunyikan. Beberapa kali instrumen ini muncul dengan jelas, terutama dalam " Fade Into Obscurity " dan " Solitary Demise ", ketika harmonisasi dengan gitar memberikan dimensi tambahan yang sangat menarik. Namun secara keseluruhan, bass jarang mendapatkan kesempatan untuk benar-benar bersinar. Padahal ketika terdengar jelas, kontribusinya sangat efektif dalam mempertebal sound album. Secara penulisan lagu, bagian tengah album menjadi area terkuat. Rentetan lagu mulai dari " Fade Into Obscurity " hingga " Terminal Punishment " memperlihatkan Dehumanized dalam kondisi terbaik mereka. Memang ada beberapa riff yang terkadang terasa monoton. Beberapa bagian menggunakan pola gallop sederhana yang bisa terasa repetitif. Namun menariknya, band ini hampir selalu berhasil menyelamatkan situasi dengan transisi atau perubahan riff yang muncul tepat sebelum kebosanan benar-benar mengambil alih. Mereka seperti memahami batas toleransi pendengar terhadap repetisi. Tepat ketika sebuah riff mulai terasa membosankan, mereka melemparkan sesuatu yang baru. Dan siklus itu terus berulang sepanjang album.

Yang juga patut diapresiasi adalah pendekatan lirik mereka. Alih-alih hanya mengisi lagu dengan katalog organ tubuh dan berbagai variasi mutilasi tanpa tujuan, Dehumanized justru menyisipkan nuansa yang lebih manusiawi dalam tema-tema mereka. Tetap gelap, tetap brutal, tetap suram, tetapi memiliki konteks dan atmosfer yang lebih kuat dibanding sekadar eksploitasi gore murahan. Hal inilah yang membuat album terasa lebih dewasa dibanding banyak rilisan BDM sezamannya. Pada akhirnya, " Prophecies Foretold " adalah salah satu album yang sangat efektif untuk membantah stereotip bahwa BDM hanyalah kumpulan kebisingan tanpa kreativitas. Tidak sempurna? Tentu tidak. Produksi memiliki beberapa kelemahan, Bass kurang menonjol karena mungkin diline up tidak menggunakan instrumen bass sepertinya,  Sebagian riff terasa repetitif. Namun semua kekurangan itu tenggelam di bawah kekuatan utama album ini: penulisan lagu yang solid, groove yang mematikan, performa drum yang luar biasa, dan pemahaman mendalam tentang bagaimana membuat musik brutal tetap menarik setelah puluhan kali diputar. Lebih dari dua dekade setelah perilisannya, " Prophecies Foretold " masih terdengar seperti pelajaran penting tentang bagaimana BDM dapat menjadi ekstrem tanpa kehilangan identitas musikalnya. Ini bukan album yang mencoba menjadi yang paling teknikal. Bukan yang paling cepat. Bukan yang paling eksperimental. Namun justru karena fokus pada apa yang benar-benar penting, Dehumanized berhasil menciptakan sesuatu yang jauh lebih langka: Album NYDM yang benar-benar memiliki daya tahan mematikan begitu sangat terasa sampai dengan hari ini.

Post a Comment

Previous Post Next Post