Eternal Ruin - Decomposing Salvation
Amputated Vein Records CD 2006
01. Creature of Habit 02:54
02. Decomposing Salvation 03:40
03. Human Toll 02:58
04. Perpetual Deviance 03:42
05. Sanctions of Disbelief 03:29
06. Target of Reprisal 03:08
07. Excreting Hate 02:50
08. Infection of the Times02:38
09. Enemy Within 01:51
10. Violence in Epic Proportions 03:25
Chris Yuastella - Vocals
Cliff Rehder - Guitars
Ryan Engle - Bass
Daniel Toal - Drums
Ada satu kutukan yang selalu menghantui dunia death metal. Bukan soal produksi murahan. Bukan soal logo yang mustahil dibaca. Bukan pula soal vokalis yang terdengar seperti sedang memuntahkan organ dalam seekor badak yang mati tenggelam. Kutukan terbesar death metal adalah menjadi " Cukup bagus " tetapi tidak cukup penting. dan di situlah posisi Eternal Ruin. Nama mereka terdengar seperti hasil generator nama band death metal era MySpace. " Eternal Ruin ". Serius? Jika seseorang melemparkan seratus nama band brutal death metal Maryland ke dalam topi dan mengambil satu secara acak, kemungkinan besar hasilnya akan terdengar persis seperti ini. Tidak buruk. Tidak hebat. Hanya... ada. Album tunggal mereka, " Decomposing In An Everlasting Wrath " via Label asal Jepang, Amputated Vein Records tahun 2006, pada dasarnya adalah representasi sempurna dari penyakit yang mulai menjangkiti sebagian besar brutal death metal Amerika pertengahan 2000-an: kemampuan teknis yang cukup mumpuni tetapi minim identitas yang benar-benar membedakan mereka dari puluhan band lain di rak CD yang sama.yang ironisnya, penyakit itu muncul justru ketika skena Maryland sedang menikmati pengaruh terbesar dari salah satu monster paling dominan dalam sejarah death metal modern: Dying Fetus ! tidak dapat dipungkiri bahwa Dying Fetus menciptakan cetak biru yang begitu efektif sehingga hampir seluruh generasi band Maryland setelah tahun 2000 menggunakannya sebagai kitab suci. Masalahnya? Ketika semua orang membaca kitab yang sama, hasil akhirnya terdengar sama pula. Perpaduan riff brutal, groove hardcore, blast beat, breakdown, dan vokal berganda menjadi formula yang begitu umum sehingga banyak band mulai terdengar seperti variasi kecil dari resep yang sama. Eternal Ruin adalah salah satu korban paling jelas dari fenomena tersebut.
Mereka jelas kompeten, mereka jelas tahu cara memainkan instrumen, mereka jelas memahami struktur brutal death metal modern, tetapi setelah beberapa lagu berjalan, pertanyaan yang muncul bukanlah: " Wah, band apa ini? " Melainkan: " Bukankah w pernah mendengar ini lima belas kali sebelumnya? Bagian paling krusial dalam death metal selalu berada pada riff. Bukan breakdown, bukan blast beat, bukan logo, bukan celana cargo, dan di sinilah Eternal Ruin mulai kehilangan pijakan. Riff-riff mereka sebenarnya cukup teknis. Tidak sebodoh deathcore generik yang akan membanjiri internet beberapa tahun kemudian. Ada usaha memasukkan unsur technical death metal ke dalam komposisi mereka. Namun hampir tidak ada satu pun riff yang benar-benar menancap di kepala. Sebagian besar berjalan dalam pola yang sudah sangat akrab bagi penggemar Suffocation, Dying Fetus, Skinless, Misery Index, maupun Deeds of Flesh. Masalahnya bukan karena mereka memainkan gaya tersebut. Masalahnya karena mereka jarang menambahkan sesuatu yang membuat pendengar berkata: " Oh, itu riff Eternal Ruin. " Sebaliknya, yang muncul justru perasaan: " w pernah mendengar variasi riff ini di album lain, dan kemungkinan besar dimainkan lebih baik. " yang menarik, Jason Netherton-nya Misery Index (ex. Dying Fetus) mengisi vokal tamu di lagu " Infection of the Times ", bernyanyi sendiri dan menulis lirik sendiri hahaha ...
Produksi album ini sebenarnya tidak buruk, Bahkan untuk standar tahun 2006, kualitas rekamannya cukup profesional digarap oleh Produser dan Enjiner Steve Carr Hit and Run Studios, Rockville, Maryland dan terakhir di Mastering oleh Scott Hull-nya Pig Destroyer di Visceral Sound Studio, Bethesda. Semuanya terdengar jelas, semuanya terdengar rapi, semuanya berada di tempat yang semestinya dan justru itu masalahnya. Karena tidak ada karakter yang benar-benar menonjol. Nada gitar terdengar datar dan kurang memiliki bobot yang diperlukan untuk mengangkat riff-riff tersebut menjadi sesuatu yang lebih mematikan. Di era ketika band-band seperti Dying Fetus, Suffocation, Hate Eternal, Nile, maupun Cryptopsy berlomba menciptakan dinding suara yang menghancurkan tengkorak pendengar, Eternal Ruin terdengar seperti memilih jalur aman. Jika ada satu elemen yang layak mendapat penghargaan khusus, maka itu adalah permainan drum. Blast beat bekerja dengan baik. Snare memiliki pukulan yang cukup tajam. Transisi ritme terasa solid. Energi yang dihasilkan drum sering kali menjadi faktor utama yang menjaga album ini tetap bergerak. Ada beberapa momen ketika permainan drum justru terdengar lebih menarik dibanding riff yang mengiringinya. Sebuah pujian sekaligus kritik. Karena dalam death metal, idealnya seluruh band bergerak bersama menuju kehancuran total, bukan drummer yang harus menyeret lagu menuju garis finis seorang diri.
Kenapa Album ini terlupakan? Jawabannya sebenarnya sih sederhana. Bukan karena album ini buruk. Justru karena terlalu banyak album lain yang lebih baik. Tahun 2006 bukanlah tahun yang ramah bagi band yang hanya " lumayan ". Saat itu death metal dipenuhi oleh monster-monster besar yang memiliki identitas sangat kuat. Eternal Ruin masuk ke medan perang dengan senjata yang layak. Tetapi lawan mereka membawa tank. Akibatnya, album ini perlahan tenggelam di antara ratusan rilisan lain yang lebih berkesan. " Decomposing In An Everlasting Wrath " bukanlah bencana. Bukan pula album yang pantas dicemooh habis-habisan. Musisinya kompeten, penampilannya profesional, Permainan drumnya kuat, produksinya cukup layak, pasalahnya hanya satu: Tidak ada alasan kuat untuk memilih album ini dibanding puluhan album lain yang menawarkan formula serupa dengan kualitas yang lebih tinggi. Ini adalah death metal yang bekerja secara teknis tetapi gagal meninggalkan bekas emosional. Album yang bisa diputar sampai selesai tanpa rasa sakit, tetapi juga bisa dilupakan beberapa menit setelah lagu terakhir berakhir. Dalam dunia death metal yang penuh karya monumental, Eternal Ruin akhirnya menjadi apa yang namanya sendiri ramalkan sejak awal: Sebuah reruntuhan abadi yang perlahan terkubur di bawah bayang-bayang band-band yang lebih besar, lebih tajam, dan jauh lebih berbahaya.


Post a Comment