Covenance - Ravaging the Pristine EP 2005

Covenance - Ravaging the Pristine
Indipendent EP 2005

01. Ravaging the Pristine 02:32      
02. Narcotic 02:39      
03. Assimilate 02:41


Vince Matthews - Vocals
Bruce Greig - Guitars
Matt Byers - Drums

 
Jika Florida melahirkan generasi awal death metal Amerika dengan segala kebrutalan primitifnya, maka Maryland adalah laboratorium tempat death metal berevolusi menjadi mesin penghancur yang lebih mekanis, lebih groove-driven, lebih politis, dan jauh lebih cocok untuk mematahkan leher dalam satu putaran moshpit. Dan ketika berbicara tentang Maryland death metal pasca-2000, satu nama berdiri begitu besar hingga bayangannya menutupi hampir seluruh skena: Dying Fetus ! Masalahnya, ketika sebuah band menjadi terlalu berpengaruh, lahirlah fenomena yang sering terjadi dalam sejarah musik ekstrem: inspirasi perlahan berubah menjadi epidemi. Sulit membantah bahwa Dying Fetus adalah salah satu band paling berpengaruh dalam evolusi brutal death metal modern. Mereka berhasil menyatukan brutalitas death metal, groove hardcore, sinkopasi khas NYDM, breakdown yang mematikan, dan lirik sosial-politik menjadi satu formula yang terdengar seperti kerusuhan jalanan yang direkam dalam studio. Masalah muncul ketika formula itu menjadi terlalu sukses.

Sepanjang tahun 2000-an, Maryland seolah berubah menjadi pabrik yang memproduksi variasi berbeda dari resep yang sama. Nama-nama seperti Pessimist, Psychotogenic, dan Severed Head sama-sama mengusung karakter death metal agresif yang dipenuhi groove, breakdown, riff sinkopatif, serta pendekatan ritmis yang sangat berutang kepada Dying Fetus. Bukan berarti mereka buruk. Justru sebaliknya. Masalahnya adalah mereka terlalu bagus dalam memainkan formula yang sudah ada. Ketika sebuah scene menghasilkan terlalu banyak band yang memiliki DNA serupa, pendengar akhirnya mulai mengalami apa yang bisa disebut sebagai " kelelahan blueprint ". Semua terdengar berat. Semua terdengar brutal. Semua terdengar kompeten. Tetapi semakin sulit menemukan sesuatu yang benar-benar memiliki identitas sendiri. Dan di tengah situasi itulah muncul sebuah nama yang menarik perhatian banyak penggemar underground Maryland: Covenance ! Nama mendiang Bruce Greig bukanlah nama sembarangan dalam skena ekstrem Amerika. Daftar riwayat hidupnya saja sudah cukup membuat sebagian besar musisi death metal merasa tidak produktif. Ia pernah terlibat dengan Desecration, Dying Fetus, Misery Index, Eternal Ruin, Fear of God, Voxhumana, Next Step Up, Sprine, hingga Together We Fall. Dalam berbagai proyek tersebut, Greig membangun reputasi sebagai gitaris yang memahami satu hal yang sering diremehkan banyak musisi ekstrem: Groove ! Tidak peduli seberapa cepat blast beat dimainkan atau seberapa teknikal riff yang ditampilkan, jika musik tidak memiliki momentum dan daya dorong, semuanya hanya akan terdengar seperti latihan pemanasan yang direkam. Bruce memahami itu. Dan hampir seluruh karya yang pernah disentuhnya selalu memiliki karakter ritmis yang kuat.

Ketika meninggalkan Misery Index, ia tidak meninggalkan musik. Sebaliknya, ia kembali membentuk Greif, sebuah proyek baru yang secara musikal masih sangat berakar pada dunia yang selama bertahun-tahun ia bangun sendiri. " Ravaging The Pristine ": Terlalu Bagus untuk Diabaikan, Terlalu Familiar untuk Mengejutkan, Mendengarkan materi seperti " Ravaging The Pristine " menghadirkan pengalaman yang agak unik. Di satu sisi, hampir tidak ada yang bisa dikritik dari sisi teknis. Riff-riffnya tajam, permainan gitarnya agresif, drumnya menghajar tanpa ampun, groove-nya mengalir alami, produksinya kuat, tetapi setelah beberapa menit, muncul satu pertanyaan yang sulit dihindari: " Kenapa rasanya saya pernah mendengar ini sebelumnya? " Dan itulah dilema terbesar Covenance. Mereka terlalu dekat dengan blueprint yang sudah dibangun Bruce sendiri selama bertahun-tahun. Alih-alih terdengar seperti awal sebuah identitas baru, banyak bagian justru terasa seperti arsip rahasia Misery Index yang baru ditemukan dari ruang penyimpanan studio. Bagi sebagian pendengar, itu adalah pujian, bagi sebagian lainnya, itu adalah masalah, karena dalam dunia underground yang terus mencari kejutan baru, kemiripan yang terlalu kuat sering kali menjadi penghalang. Meskipun demikian, kualitas personel yang terlibat tidak pernah bisa diragukan. Di balik drum terdapat Matt Byers, nama yang pernah menghajar bersama Misery Index, Severed Head, dan War Nerve, Byers bukan tipe drummer yang bermain demi pamer. Ia bermain demi menghancurkan. Permainannya mengingatkan mengapa banyak drummer Maryland memiliki reputasi sebagai penggerak utama groove ekstrem Amerika.

Setiap ketukan terasa seperti bagian dari mesin industri yang sedang menggiling beton. Tidak berlebihan, tidak bertele-tele, langsung mengenai sasaran, sementara itu, vokalis Vince Matthews tetap menjadi salah satu identitas paling mudah dikenali dalam death metal Amerika, ada vokalis yang terdengar brutal, ada vokalis yang terdengar unik, Matthews memiliki keduanya. Begitu suaranya muncul, hampir mustahil untuk salah mengenali siapa yang sedang berteriak melalui speaker. Karakternya memiliki aura khas yang bahkan mampu mengangkat materi yang secara komposisi mungkin terasa familiar. Kemudian hadir tambahan nama besar lain: Martin Lacroix, mantan vokalis Cryptopsy. Masuknya Martin membawa kemungkinan baru yang menarik, terutama mengingat reputasinya sebagai salah satu frontman paling eksplosif yang pernah muncul dalam death metal Kanada, infonya band ini udah ga aktif lagi karena sosok Bruce rasanya sulit tergantikan. Salah satu aspek yang langsung memperkuat materi Covenance adalah kualitas produksi. Rekaman dilakukan di Orion Studios dan kemudian dimixing oleh Erik Rutan di Mana Recording. dan seperti biasa, sentuhan Rutan hampir tidak pernah gagal. Produksinya modern tanpa kehilangan keganasan. Gitar terdengar tebal. Drum tetap hidup, Bass memiliki ruang, Vokal tetap dominan tanpa menenggelamkan instrumen lain, tidak ada eksperimen aneh, tidak ada polesan berlebihan, hanya brutal death metal yang terdengar sebagaimana seharusnya: besar, berat, dan mengancam. Ironisnya, kekuatan terbesar Covenance sekaligus menjadi kelemahan terbesarnya. Mereka memainkan Maryland death metal dengan sangat baik. Mungkin terlalu baik. Karena ketika sebuah band memainkan formula yang sudah begitu dikenal dengan tingkat presisi tinggi, pendengar sering kali mulai membandingkannya dengan para pencipta formula tersebut. dan dalam kasus ini, bayangan Dying Fetus dan Misery Index masih terlalu besar. Riff-riff sinkopatif, groove hardcore, transisi grind, breakdown yang meledak tiba-tiba, semua elemen itu ada, semuanya efektif, namun semuanya juga terasa sangat familiar, ini bukan kesalahan Greif semata, ini adalah konsekuensi alami ketika sebuah scene terlalu lama hidup di bawah pengaruh satu atau dua raksasa.

Covenance adalah kumpulan musisi berpengalaman yang memahami cara menulis death metal agresif dengan kualitas tinggi. Mereka memiliki produksi yang solid, riff yang kuat, groove yang mematikan, drummer yang luar biasa, dan vokalis dengan identitas yang sangat khas. Namun pada tahap awal keberadaannya, Covenance masih terdengar seperti band yang berdiri di persimpangan antara penghormatan dan ketergantungan terhadap warisan masa lalu. Mendiang Bruce Greig sekali lagi menunjukkan bakatnya sebagai arsitek groove dan penghancur ritme, tetapi materi seperti " Ravaging The Pristine " belum sepenuhnya berhasil melepaskan diri dari gravitasi Dying Fetus dan Misery Index. Meski demikian, tiga lagu bukanlah ukuran mutlak sebuah masa depan. Dan jika ada satu pelajaran yang diajarkan sejarah underground metal, itu adalah bahwa banyak band besar lahir dari fondasi yang awalnya terdengar terlalu familiar. Covenance memiliki semua amunisi untuk menjadi sesuatu yang lebih besar. Sayangnya, kepergian Bruce Greig membuat perjalanan tersebut menjadi salah satu kisah " Bagaimana jika " yang paling menarik dalam sejarah death metal Maryland modern. Dan seperti banyak kisah terbaik dalam metal ekstrem, jawabannya mungkin akan selamanya terkubur di antara riff-riff yang masih terus bergema dari ruang latihan bawah tanah Baltimore. 

Post a Comment

Previous Post Next Post