Eternal Suffering - Drowning in Tragedy
Extremities Productions CD 1999
01. Midnight's Embrace 00:33
02. My Once Shadowed Desire 03:18
03. Drown in the Candles Flame 04:09
04. Let the Dark Waters Flow 06:46
05. The Warmth in Her Torment 05:31
06. Trail of Blood to the Altar 04:40
07. Love Can Never Conquer Hate 04:06
08. Buried Under Blackened Tears 04:12
09. Rise 04:14
10. To Sadness, Betrothed 05:48
11. (Untitled) 03:58
Wayne Sarantopoulos - Vocals
Brian Evans - Guitars
Chris Glover - Bass
Chad Connell - Drums
Ada album yang sukses karena kualitasnya. Ada album yang sukses karena momentum. Dan ada album yang seharusnya menjadi klasik tetapi justru terkubur hidup-hidup di bawah reruntuhan sejarah underground. " Drowning in Tragedy " milik Eternal Suffering berada di kategori terakhir itu. Ironisnya, salah satu hal paling menyedihkan tentang album ini justru bukan isi musiknya, melainkan kenyataan bahwa hampir tidak ada kelanjutan berarti setelahnya. Eternal Suffering seperti muncul dari kegelapan, menjatuhkan sebuah bom nuklir BDM yang menghancurkan apa pun di sekitarnya, lalu menghilang begitu saja seakan tidak pernah ada. Tidak ada rentetan album legendaris. Tidak ada karier panjang yang dipenuhi tur dunia. Tidak ada status superstar underground seperti yang dinikmati Disgorge, Gorgasm, atau bahkan Dripping yang sampai hari ini masih sering dibicarakan oleh kolektor BDM. Yang tersisa hanyalah satu monumen kekerasan sonik bernama " Drowning in Tragedy ". Dan sialnya, album ini benar-benar pantas mendapatkan lebih banyak pengakuan. Ketika BDM Belum Menjadi Karikatur Dirinya Sendiri Pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, BDM sedang mengalami evolusi besar. Banyak band mulai berlomba menjadi lebih teknikal, lebih rumit, lebih cepat, dan lebih ekstrem. Sebagian berhasil. Sebagian lagi terjebak menjadi ajang pamer kemampuan tanpa arah. Eternal Suffering mengambil jalan berbeda. Mereka tetap brutal. Tetap cepat. Tetap menghancurkan. Tetapi mereka memahami sesuatu yang sering dilupakan banyak band ekstrem: lagu yang bagus selalu lebih penting daripada sekadar menunjukkan kemampuan bermain. Album ini terdengar seperti persimpangan liar antara BDM, Grindcore, Slam primitif, dan Groove NYDM. Bahkan booklet album secara sederhana mendeskripsikan musik mereka sebagai: " Grinding Crushing Brutality. " Dan untuk sekali ini, slogan promosi tidak berlebihan. Beratnya Tidak Masuk Akal !
Mari bicara soal elemen paling mendasar: berat. Banyak album mengklaim dirinya berat. Banyak band menggunakan kata "brutal" seperti anak kecil menggunakan stiker tengkorak di buku tulis sekolah. Namun " Drowning in Tragedy " benar-benar berat dalam arti sebenarnya. Tone gitar album ini terdengar seperti tembok beton yang dilemparkan dari lantai sepuluh. Tebal. Padat. Menghantam tanpa ampun. Setiap riff memiliki bobot yang terasa fisik. Bahkan ketika mixing album terdengar sedikit tertahan dibanding standar modern, kekuatan riff tetap menembus keluar seperti binatang buas yang mencoba menghancurkan kandangnya. Yang lebih mengesankan lagi adalah bagaimana Eternal Suffering berhasil menangkap esensi slam sebelum slam benar-benar menjadi formula yang dieksploitasi habis-habisan. Breakdown-breakdown masif muncul secara alami. Bukan sekadar " Satu menit Blast beat lalu breakdown untuk crowd killing. " Tidak. Di sini slam muncul sebagai bagian organik dari struktur lagu. Sebuah jeda sebelum badai berikutnya datang menghancurkan. Jason Suecof (Capharnaum, Charred Walls of the Damned, ex-Gargamel, ex-Crotchduster, ex-Evince) di Audio Hammer Studios in Sanford, Florida dan Sentuhan Produksi yang Mematikan Ketika mengetahui bahwa album ini ditangani oleh Jason Suecof, semuanya langsung masuk akal. Nama tersebut kini identik dengan produksi metal modern berkualitas tinggi, tetapi bahkan pada masa itu kemampuannya sudah terlihat jelas. Suecof berhasil mempertahankan karakter underground yang kasar sambil memastikan setiap instrumen tetap memiliki pukulan maksimal. Hasilnya adalah produksi yang terdengar liar tetapi tidak berantakan. Kasar tetapi tidak kabur. Brutal tetapi tetap bisa dinikmati berulang kali. Dan percayalah, album ini memang meminta untuk diputar berulang kali. Jika gitar adalah palu godam album ini, maka drummernya adalah mesin perang yang menggerakkan seluruh operasi penghancuran. Banyak album BDM mengalami masalah klasik: Drum cepat, tetapi monoton. Blast beat tanpa akhir. Tempo tinggi tanpa dinamika. Eternal Suffering menghindari jebakan itu. Permainan drum di sini luar biasa hidup. Blast beat muncul ketika dibutuhkan. Double bass digunakan secara efektif. Groove hardcore disisipkan dengan presisi. Fill dan footwork muncul hampir di setiap sudut tanpa terasa berlebihan. Sering kali justru drum menjadi elemen yang mengangkat riff-riff menuju level yang lebih tinggi. Dan semakin lama mendengarkan album ini, semakin muncul pertanyaan sederhana: Siapa sebenarnya orang-orang ini? Dan kenapa mereka tidak menjadi nama besar. Melodi Busuk yang Menjadi Identitas Salah satu aspek paling unik dari Drowning in Tragedy adalah pendekatan melodinya. Melodi di sini tidak indah. Tidak heroik. Tidak megah. Melodi mereka terdengar sakit. Seolah gitar direkam dalam keadaan hampir tidak selaras. Seolah MDM Swedia pertengahan 90-an dibengkokkan, dipatahkan, lalu dilempar ke ruang bawah tanah yang penuh mayat membusuk. Hasilnya adalah atmosfer yang sangat mengganggu. Tidak nyaman. Tetapi justru itulah yang membuat album ini memiliki identitas kuat.
Band lain mungkin terdengar brutal. Eternal Suffering terdengar brutal sekaligus sakit secara psikologis. Terlalu Pintar untuk Slam, Terlalu Brutal untuk dinamis, Inilah mungkin alasan terbesar kenapa album ini gagal mendapatkan pengakuan luas. Album ini berada di posisi yang tidak menguntungkan. Bagi penggemar slam murni, terlalu banyak riff dan variasi, Bagi penggemar TDM, terlalu barbar.Bagi fans death metal tradisional, terlalu brutal. Bagi penggemar grindcore, terlalu terstruktur. Dengan kata lain, mereka berada di antara semua kubu. Dan seperti yang sering terjadi dalam musik ekstrem, berada di tengah sering kali berarti dilupakan oleh semuanya. Padahal justru di wilayah abu-abu itulah Eternal Suffering menemukan identitas mereka. Vokal yang Terdengar Seperti Monster Keluar dari Kuburan Penampilan vokal di album ini pantas mendapatkan pujian khusus. Growl yang dikeluarkan terdengar dalam, kasar, dan menjijikkan dengan cara terbaik. Bukan sekadar suara rendah demi terdengar berat. Ada karakter. Ada agresi, Ada rasa marah yang terasa nyata. Kadang terdengar seperti Joe Ptacek dari Broken Hope. Kadang mengingatkan pada era BDM paling liar sebelum semuanya dipoles secara digital. Memang ada beberapa bagian di mana mixing sedikit menenggelamkan vokal ke belakang, tetapi kualitas performanya tetap tidak terbantahkan. Album yang Semakin Hebat Semakin Sering Diputar. Keunggulan terbesar " Drowning in Tragedy " mungkin justru baru terasa setelah beberapa kali mendengarkan. Album ini tidak mengandalkan gimmick. Tidak mengandalkan teknik sirkus. Tidak mengandalkan kecepatan semata. Sebaliknya, album ini penuh detail-detail kecil yang terus bermunculan setiap kali diputar ulang. Riff-riff yang sebelumnya terasa sederhana mulai menunjukkan kompleksitasnya. Transisi yang awalnya luput mulai terasa cerdas. Lapisan groove dan dinamika mulai muncul ke permukaan. Semakin sering didengar, semakin jelas bahwa ini bukan sekadar album BDM biasa. Ini adalah album yang ditulis dengan pemahaman mendalam tentang bagaimana membuat kekerasan musikal tetap menarik dari awal hingga akhir.
Overall, " Drowning in Tragedy " adalah salah satu permata tersembunyi BDM Amerika yang paling tragis sekaligus paling memuaskan. Ia lahir pada era yang tepat. Memiliki kualitas yang tepat. Memiliki musisi yang tepat. Namun entah karena nasib buruk, kurangnya promosi, atau sekadar kejamnya sejarah underground, album ini tidak pernah mendapatkan pengakuan yang seharusnya. Yang tersisa hari ini adalah sebuah dokumen sonik dari masa ketika BDM masih lapar, masih berbahaya, dan belum berubah menjadi kompetisi siapa yang bisa memainkan breakdown paling lambat atau blast beat paling cepat. Jika kalian termasuk orang yang masih menganggap BDM hanyalah sekumpulan pria berhoodie yang menulis lirik gore tanpa otak, maka " Drowning in Tragedy " adalah bukti bahwa genre ini bisa jauh lebih cerdas, lebih dinamis, dan lebih artistik daripada yang sering diberikan penghargaan. Eternal Suffering mungkin tidak pernah menjadi legenda besar. Tetapi album ini adalah pengingat bahwa kadang-kadang sejarah musik tidak selalu ditulis oleh yang terbaik. Kadang sejarah hanya ditulis oleh yang paling beruntung. Dan Drowning in Tragedy adalah salah satu contoh paling menyakitkan dari kenyataan tersebut. " Drowning in Tragedy " - Mahakarya BDM ramah Groovy yang terlalu Gokill untuk dilupakan !


Post a Comment