Dying Fetus - Killing on Adrenaline
Morbid Records CD 1998
01. Killing on Adrenaline 05:33
02. Procreate the Malformed 07:05
03. Fornication Terrorists 05:25
04. We Are Your Enemy 03:44
05. Kill Your Mother / Rape Your Dog 01:15
06. Absolute Defiance 03:52
07. Judgement Day (Integrity cover) 01:50
08. Intentional Manslaughter 05:30
John Gallagher - Guitars, Vocals
Jason Netherton - Bass, Vocals
Brian Latta - Guitars
Kevin Talley - Drums
Ada album yang terdengar brutal, ada album yang terdengar teknikal, ada album yang terdengar marah, lalu ada Killing on Adrenaline, album yang terdengar seperti seseorang mengendarai buldoser berkecepatan tinggi melewati gedung parlemen sambil meneriakkan manifesto politik melalui pengeras suara yang rusak. Ketika banyak band death metal akhir 90-an mulai sibuk mengejar kompleksitas teknis tanpa arah, atau tenggelam dalam perlombaan siapa yang bisa terdengar paling ekstrem demi nilai kejut semata, Dying Fetus justru melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: mereka menemukan identitas mereka sendiri. dan hasilnya adalah salah satu album paling penting, paling berpengaruh, sekaligus paling disalahpahami dalam sejarah death metal modern. Tahun 1998 adalah masa transisi yang aneh. Scene BDM sedang kehilangan beberapa pilar utamanya, Suffocation praktis menghilang dari radar, Cryptopsy sedang memasuki periode perubahan besar setelah pergeseran personel dan evolusi musikal yang tidak semua orang terima dengan tangan terbuka. Sementara itu, gelombang kedua black metal sedang menyedot sebagian besar perhatian media ekstrem. Di tengah kekosongan itu, Dying Fetus muncul bukan sebagai penyelamat yang mengenakan jubah kepahlawanan, melainkan seperti geng kriminal yang mengambil alih wilayah kosong dengan kekerasan dan tanpa meminta izin. " Killing on Adrenaline " bukan sekadar album kedua. Ini adalah deklarasi perang !
Inilah fakta yang sering membuat kaum puritan mengernyitkan dahi: " Killing on Adrenaline " mungkin merupakan album Dying Fetus yang paling hardcore dibandingkan seluruh katalog mereka. Dan justru itulah kekuatannya. Selama bertahun-tahun banyak penggemar death metal berusaha berpura-pura bahwa elemen hardcore dalam musik Dying Fetus hanyalah aksesoris tambahan. Padahal kenyataannya justru sebaliknya. Jika kita membedah DNA album ini secara jujur, maka yang muncul bukan sekadar brutal death metal dengan breakdown. Yang muncul adalah hardcore yang mengenakan kulit death metal, dan Dying Fetus tahu persis apa yang mereka lakukan, ketika mereka memainkan riff teknikal berkecepatan tinggi, hasilnya sering kali terasa seperti kekacauan yang disengaja. Namun saat mereka memperlambat tempo dan membiarkan groove mengambil alih kendali, tiba-tiba seluruh mesin menjadi hidup. Di sanalah sihir sebenarnya terjadi, jika ada satu elemen yang membuat album ini begitu legendaris, jawabannya adalah riff. Bukan sekadar riff berat, bukan sekadar riff cepat, tetapi riff yang memiliki identitas, John Gallagher pada album ini berada dalam bentuk terbaik sepanjang kariernya. apa yang ia lakukan di sini bukan hanya soal teknik. menggabungkan sweep picking, tapping, pinch harmonic, chromatic phrasing, groove hardcore, dan brutalitas death metal menjadi sesuatu yang terdengar sangat khas. Banyak gitaris mampu memainkan riff sulit, namun sangat sedikit yang mampu menulis riff yang langsung menghantam ingatan, Gallagher melakukannya berulang kali sepanjang album. Riff-riff di " Intentional Manslaughter ", " Absolute Defiance ", " Procreate the Malformed ", hingga lagu judul " Killing on Adrenaline " tidak hanya brutal. Mereka memiliki karakter, dan dalam death metal, itu jauh lebih sulit dicapai daripada sekadar memainkan 500 not dalam satu menit.
Jika album ini memiliki pusat gravitasi, maka lagu tersebut adalah Procreate the Malformed, Komposisi terpanjang dalam sejarah Dying Fetus ini berfungsi sebagai laboratorium tempat seluruh ide album diuji secara ekstrem, Lagu ini bergerak dari riff disonan yang terasa seperti pisau berkarat, menuju chugging groove yang bisa meratakan moshpit dalam hitungan detik. Tidak ada usaha untuk membuat transisi terdengar " halus ", justru benturan antar bagian itulah yang menjadi daya tariknya. Teknik dan groove dipisahkan secara sengaja. Bukan dicampur, bukan dilebur, dipisahkan, dan anehnya, pendekatan itu bekerja dengan sangat baik. Sulit membicarakan album ini tanpa memberikan penghormatan kepada Kevin Talley, banyak drummer mampu memainkan blast beat. Talley membuat blast beat terdengar seperti serangan artileri. Snare-nya yang tajam dan menggelegar menjadi salah satu identitas sonik album ini. Produksi mungkin jauh dari sempurna. Tetapi justru karakter kasar itu memberikan daya tarik tersendiri. Drum terdengar hidup. Berbahaya, tidak steril, tidak dipoles berlebihan seperti banyak album modern yang terdengar seolah direkam oleh algoritma. Secara objektif? Produksi Killing on Adrenaline memiliki banyak kekurangan. Level bass hampir menelan sebagian gitar, beberapa detail riff terkubur di balik kabut frekuensi rendah, pada pendengaran pertama, banyak bagian terdengar seperti kekacauan sonik, namun setelah beberapa kali mendengarkan, justru di situlah daya tariknya, album ini memiliki nuansa keruh yang membuat setiap lagu terasa seperti kerusuhan jalanan yang direkam secara langsung dari pusat kekacauan, Tidak bersih, tidak nyaman, tetapi sangat nyata dan dalam musik ekstrem, kepribadian sering kali lebih penting daripada kesempurnaan teknis.
Sekarang mari kita membahas kata yang membuat sebagian penggemar death metal mendadak kehilangan kemampuan bernapas: Metallic Hardcore, Pengaruh Dying Fetus terhadap Metallic Hardcore modern sangat besar, dan tidak ada gunanya menyangkal hal itu. Breakdown-breakdown dalam Killing on Adrenaline bukanlah breakdown yang kebetulan terjadi. Mereka adalah bagian inti dari identitas musik ini. Band-band deathcore generasi berikutnya mungkin memperhalus, memperbesar, atau bahkan merusaknya. Tetapi fondasinya sudah ada di sini. Saat mendengar breakdown dalam lagu judul atau Procreate the Malformed, hubungan historis tersebut menjadi sangat jelas. Perbedaannya adalah Dying Fetus tetap mempertahankan brutalitas death metal yang sesungguhnya. Mereka tidak mengorbankan kekerasan demi aksesibilitas, mereka tidak mengubah breakdown menjadi gimmick dan mereka menjadikannya senjata. Satu aspek yang sering diabaikan adalah lirik. Pada saat banyak band brutal death metal masih terjebak dalam kompetisi siapa yang bisa menulis kekerasan paling absurd, Dying Fetus mulai mengarahkan amarah mereka ke dunia nyata. Korupsi, Kemunafikan, Manipulasi politik, Ketidakadilan sosial, Semuanya hadir dalam bentuk kemarahan mentah yang jauh lebih relevan daripada sekadar cerita gore generik. Di sinilah album ini terasa memiliki jiwa yang berbeda. Energi yang muncul bukan sekadar kebrutalan. Tetapi kemarahan kolektif, Perlawanan, frustrasi terhadap sistem, dalam banyak hal, semangatnya justru lebih dekat kepada Rage Against the Machine dibandingkan banyak band death metal sezamannya. Tentu saja dengan volume yang sepuluh kali lebih keras dan tingkat kekerasan sonik yang seratus kali lebih brutal.
Pada akhirnya, " Killing on Adrenaline " berdiri di persimpangan yang sangat unik, Ia bukan BDM murni, bukan hardcore murni, bukan technical death metal murni, ini adalah titik tabrakan dari semuanya, dan dari benturan itulah lahir sesuatu yang benar-benar khas. Album ini menangkap Dying Fetus pada saat yang paling lapar, paling kreatif, dan paling berbahaya. Mereka belum menjadi institusi death metal yang dihormati seperti sekarang. Mereka masih terdengar seperti kelompok kriminal musikal yang mencoba merobohkan seluruh bangunan genre dari dalam. Dua puluh lima tahun lebih setelah perilisannya, banyak album brutal death metal terdengar usang. Banyak album teknikal terdengar seperti latihan instrumen. Banyak album ekstrem kehilangan taringnya setelah efek kejut memudar. Namun " Killing on Adrenaline " tetap bertahan. Karena di balik seluruh blast beat, breakdown, growl, dan kemarahannya, album ini memahami sesuatu yang sering dilupakan oleh banyak musisi ekstrem: Tidak cukup hanya terdengar brutal. Musik harus memiliki sesuatu untuk dikatakan dan Dying Fetus mengatakannya dengan cara yang paling keras, paling kasar, dan paling memuaskan yang bisa dibayangkan.


Post a Comment