Fate - Non Sense CD 2000

Fate - Non Sense
Independent CD 2000

01. Stagnant Water of Mind 02:42       
02. Smoke the H 03:02     
03. Chibulitude (Trained to Kill) 02:39      
04. Black Dog 02:07     
05. Insane 02:43      
06. State of Violence 02:46     
07. Epitaph of a Greedy World 03:34       
08. No Sense 00:47      
09. Conformism 02:30       
10. People Never Change 03:31


Krambar  Vocals, Bass
David - Guitars
Denis - Guitars
Djony - Turntables
Nito - Drums


Dalam sejarah death metal, ada album-album yang dihormati karena inovasinya. Ada pula album yang dibenci karena dianggap mengkhianati tradisi. Lalu ada album seperti " No Sense " milik Fate, rilisan yang selama bertahun-tahun terjebak di antara dua kubu yang sama-sama kebingungan menentukan sikap. Di satu sisi, kaum puritan death metal memandang album ini seperti wabah yang lolos dari laboratorium. Di sisi lain, para pencinta brutal death metal yang lebih terbuka justru melihatnya sebagai eksperimen berani yang muncul jauh sebelum dunia mengenal istilah deathcore, sebelum MySpace menjadi sarang breakdown, dan sebelum setiap band muda merasa wajib menambahkan dua puluh breakdown dalam satu lagu agar dianggap brutal. Dan di situlah letak ironi terbesar Fate. Mereka datang terlalu cepat. Ketika BDM Bertemu Jalanan pada akhir dekade 90-an merupakan masa yang aneh bagi death metal. Skena brutal death metal sedang mengalami evolusi cepat. Suffocation telah membuka pintu. Cryptopsy sedang membakar batas-batas teknikalitas. Devourment mulai merumuskan bahasa slam. Sementara di bawah tanah Amerika, benih-benih budaya hardcore, hip-hop jalanan, dan groove brutal mulai berbaur secara perlahan. Banyak orang menganggap fenomena ini sebagai awal dari apa yang kemudian dikenal secara sinis sebagai " Wiggerization " dalam death metal. Istilah "wigger" sendiri digunakan secara peyoratif oleh sebagian komunitas ekstrem metal untuk menggambarkan band-band yang mulai mengadopsi estetika jalanan, groove hardcore, breakdown berat, serta nuansa ritmis yang dianggap lebih dekat ke hip-hop dibandingkan tradisi death metal klasik. Dan jika ada album yang sering dijadikan tersangka utama dalam pengadilan tidak resmi tersebut, maka " No Sense " hampir selalu muncul dalam daftar barang bukti.

Melihat logo band yang bergaya, foto promosi yang jauh dari stereotip metal klasik, hingga keberadaan turntable di dalam musik mereka, banyak orang langsung menjatuhkan vonis bahkan sebelum menekan tombol play. Kesalahan terbesar mereka adalah mengira ini rap-metal. Padahal kenyataannya jauh lebih menarik. Turntable Bukan Musuh Death Metal Mari kita luruskan satu hal terlebih dahulu. Fate tidak memainkan rapcore. Mereka tidak memainkan nu-metal. Mereka bahkan tidak terdengar seperti Limp Bizkit yang sedang mabuk di ruang latihan Suffocation. yang mereka mainkan adalah brutal death metal yang sangat kental dengan pengaruh NYDM, hanya saja mereka berani memasukkan elemen yang dianggap tabu pada zamannya. Scratch turntable memang ada, sampling memang muncul, beberapa bagian ritmis memang memiliki nuansa groove jalanan yang sangat kuat tetapi inti musiknya tetap brutal death metal, dan BDM yang sangat mematikan. Alih-alih terdengar seperti eksperimen gagal antara DJ dan metalhead, turntable di sini lebih berfungsi sebagai lapisan tekstur tambahan. Scratch tidak pernah mengambil alih lagu. Ia tidak mendominasi komposisi. Bahkan dalam banyak bagian, keberadaannya begitu subtil sehingga nyaris tidak terasa. Berbeda dengan banyak band modern yang menjadikan gimmick sebagai fondasi utama, Fate justru memahami prinsip dasar penggunaan elemen non-metal: Gunakan secukupnya ! Produksi yang Secara nyata memang kurang Bagus, seandainya mereka ada diera sekarang ga bisa w bayangkan sedasyat apa materi mereka, namun diera tersebut sudah cukuplah untuk menjadi sebuah masterpiece !

Hal pertama yang menghantam pendengar sebenarnya bukan riff, melainkan produksi, dan di sinilah banyak orang terkejut, karena " No Sense " memiliki salah satu produksi paling kuat yang pernah muncul dari BDM bawah tanah era akhir 90-an. Drumnya terdengar organik, Bass terdengar hidup dan yang paling mengejutkan, bass benar-benar bisa didengar. Sebuah konsep revolusioner yang tampaknya masih sulit dipahami banyak band brutal death metal hingga hari ini. Nuansa produksinya mengingatkan pada mahakarya brutal death metal seperti None " So Vile ". Tentu tidak identik, tetapi memiliki filosofi yang serupa. Segala instrumen diberikan ruang bernapas. Tidak ada frekuensi yang saling membunuh, Bass tidak sekadar menjadi bayangan gitar, Bass menjadi karakter utama kedua dan hasilnya luar biasa. Kabut sonik yang tercipta membuat seluruh album terdengar kotor, hidup, dan berbahaya secara bersamaan. Riff-Riff Preman yang Tahu Cara Membunuh Banyak kritik terhadap Fate berfokus pada dominasi groove dan chugging. Sebagian bahkan menuduh bahwa album ini tidak memiliki riff sungguhan. Tuduhan tersebut terdengar dramatis, tetapi juga keliru. Yang terjadi sebenarnya adalah Fate memprioritaskan impact dibandingkan kompleksitas. Mereka memahami bahwa tidak semua riff harus terdengar seperti ujian masuk sekolah musik. Kadang-kadang sebuah riff cukup efektif ketika mampu membuat leher bergerak secara refleks. dan " No Sense " penuh dengan momen semacam itu.

Di satu sisi terdapat pengaruh Suffocation dan Dying Fetus yang jelas terlihat melalui permainan teknikal, disonansi, dan struktur brutal death metal yang kompleks. Di sisi lain terdapat groove-groove jalanan yang terasa seperti pukulan tongkat baseball ke bagian belakang kepala. Perpaduan ini menciptakan identitas unik. Ketika riff teknikal selesai menghajar otak, groove datang menghajar tulang rusuk. Tidak banyak band yang mampu menjaga keseimbangan tersebut. Vokal dari Lubang Kubur, Krambar tidak mencoba menjadi Lord Worm, tidak mencoba menjadi Frank Mullen, tidak mencoba menjadi vokalis paling unik di dunia. Yang ia lakukan hanyalah memberikan growl dalam, busuk, dan mengancam yang sangat cocok dengan musiknya. Vokalnya terdengar seperti seseorang yang telah menghabiskan seminggu terkubur hidup-hidup lalu dipaksa menjelaskan pengalaman tersebut melalui mikrofon, tidak revolusioner, tidak eksperimental, tetapi efektif dan dalam brutal death metal, efektivitas sering kali lebih penting daripada inovasi. Terlalu Awal untuk Dipahami Jika album ini dirilis lima atau tujuh tahun lebih lambat, kemungkinan besar banyak orang akan menyebutnya visioner. Sebaliknya, karena dirilis pada tahun 1998, Fate justru terjebak di tengah masa transisi. Terlalu brutal untuk penikmat nu-metal, terlalu eksperimental untuk kaum puritan death metal, terlalu groove untuk penggemar technical death metal, terlalu death metal untuk pendengar hardcore. Akibatnya, mereka menjadi korban dari posisi yang sangat tidak menguntungkan: Tidak cukup cocok untuk siapa pun. Padahal justru di situlah kekuatan mereka berada.

Sebuah Album yang Mendahului Zamannya, Banyak elemen yang kemudian menjadi standar dalam Metallic Hardcore, slam modern, dan brutal death metal kontemporer sebenarnya sudah muncul di sini. Breakdown yang berat. Groove berbasis hardcore, Sinkopasi agresif, Atmosfer jalanan, pendekatan ritmis yang lebih menonjol dibandingkan riff tradisional. Bedanya, Fate melakukannya sebelum tren tersebut menghasilkan ribuan band kloningan. Mereka melakukannya ketika formula itu belum menjadi industri. Dan mungkin karena itulah " No Sense " masih terdengar segar hingga sekarang. " No Sense " adalah album yang membuktikan bahwa inovasi dalam death metal tidak selalu datang dalam bentuk progresivitas intelektual ala Gorguts atau eksperimentasi avant-garde yang rumit. Kadang inovasi datang dalam bentuk keberanian untuk melakukan sesuatu yang dianggap salah oleh semua orang. Fate mengambil BDM, memasukkan unsur groove jalanan, hardcore, turntable, sampling, dan sikap yang hampir terasa kriminal bagi standar genre saat itu. Hasilnya bukan rap-metal, bukan nu-metal, bukan pula parodi, melainkan sebuah monster BDM yang aneh, kontroversial, kasar, dan sangat menghibur. Dua puluh tahun lebih setelah perilisannya, " No Sense " tetap menjadi pengingat bahwa sering kali skena metal tidak takut pada musik yang buruk. scene metal takut pada musik yang datang terlalu cepat. Dan Fate datang jauh sebelum banyak orang siap menerimanya.

Post a Comment

Previous Post Next Post