Soils of Fate - Crime Syndicate
Forensick Music CD 2003
01. Killaz Beware 04:20
02. Omertá (Men of Honor / Codex of Silence) 03:54
03. Blood Money 03:23
04. Vs. 03:24
05. Crack 03:39
06. Murder Inc. 01:18
07. Flowing Under Skin 2.0 03:21
08. Insider 02:55
09. Devoid of Truth (Suffocation cover) 02:26
Mange - Guitars
Henke - Vocals, Bass
Kevin - Add. Drums
Ada banyak band yang mencoba terdengar brutal. Ada yang berlomba menjadi paling cepat. Ada yang berlomba menjadi paling teknikal. Ada yang berlomba menjadi paling berat sampai terdengar seperti truk semen jatuh ke jurang. Dan kemudian ada Soils of Fate, sebuah trio asal Swedia yang tampaknya memilih jalur berbeda: menjadi brutal sambil tetap membuat pendengar menganggukkan kepala tanpa henti. Terdengar sederhana? Justru di situlah letak masalahnya. Karena membuat brutal death metal yang benar-benar memorable jauh lebih sulit daripada sekadar menumpuk blastbeat, pig squeal, dan riff kromatik yang terdengar seperti mesin fotokopi rusak. Banyak band BDM lahir dengan obsesi menjadi lebih ekstrem dari pendahulunya, lalu tenggelam dalam lautan album yang terdengar identik satu sama lain. Mereka mungkin brutal, tetapi tidak meninggalkan jejak. Soils of Fate adalah pengecualian. dan " Crime Syndicate " adalah bukti paling kuatnya. Ketika Slam Belum Menjadi Karikatur Dirinya Sendiri. Awal 2000-an merupakan masa yang menarik bagi BDM. Gelombang pertama pengaruh NYDM sudah menyebar ke seluruh dunia. Nama-nama seperti Suffocation, Internal Bleeding, Pyrexia, dan Dying Fetus telah membentuk blueprint baru yang jauh lebih groove-oriented dibanding death metal klasik era Florida. Masalahnya, banyak band hanya mengambil permukaan gaya tersebut. Mereka menyalin breakdown, menyalin chug, menyalin slam, mengira itu sudah cukup. Hasilnya? Ribuan rilisan yang terdengar seperti salinan fotokopi generasi ketujuh dari sebuah salinan fotokopi.
Di tengah situasi itu, Soils of Fate datang membawa sesuatu yang semakin langka dalam brutal death metal: identitas. Mereka tetap memainkan brutal death metal, tetap memainkan slam, tetap memainkan groove, namun mereka memahami bahwa groove bukanlah jeda di antara riff. Groove adalah riff itu sendiri. dan " Crime Syndicate " berdiri di atas filosofi tersebut. Debut album pertama " Sandstorm " Naik Kelas ! Banyak album kedua gagal karena mencoba mengubah terlalu banyak hal, banyak juga yang gagal karena tidak mengubah apa pun. " Crime Syndicate " berhasil karena mengambil semua kelebihan album debut "Sandstorm" lalu memperkuatnya secara sistematis. Tidak ada revolusi besar, tidak ada perubahan arah drastis, tidak ada eksperimen nekat yang membuat identitas band hilang, yang ada adalah penyempurnaan. setiap aspek yang bekerja pada album pertama dibuat lebih tajam, setiap kelemahan diperbaiki, setiap elemen penting mendapat peningkatan kualitas, inilah yang seharusnya dilakukan album kedua. Bukan menemukan kembali roda. Melainkan membuat roda lama berputar lebih cepat dan menghancurkan lebih banyak tengkorak. " Killaz Beware ": Lagu yang Seharusnya Lebih Terkenal Dari Banyak Klasik, begitu album dibuka dengan " Killaz Beware ", Soils of Fate langsung mengumumkan niat mereka, tidak ada intro panjang yang sok atmosferik, ga ada ambient yang menghabiskan waktu, ga ada basa-basi dan langsung menghantam dengan keras ! Lagu ini adalah definisi sempurna dari bagaimana BDM bisa tetap mudah diingat tanpa kehilangan kekerasannya. Riff utama menempel di kepala, Groove-nya memaksa leher bergerak, Solo gitarnya muncul dengan timing yang sempurna Lalu breakdown yang mengikutinya terasa seperti tembok beton yang jatuh dari lantai sepuluh, Ini adalah jenis lagu yang membuktikan bahwa " Memorable " tidak selalu identik dengan " Mainstream ". Karena banyak lagu brutal death metal yang lebih teknikal, lebih cepat, lebih rumit, tetapi tidak banyak yang seefektif ini. layaknya Gangsta Mentality dalam Tubuh Brutal Death Metal jadi salah satu elemen paling menarik dari " Crime Syndicate " adalah bagaimana album ini tidak pernah menyembunyikan pengaruh budaya jalanan yang menjadi bagian dari identitasnya. pada masa ketika sebagian besar komunitas metal masih memandang hip-hop seperti wabah penyakit, Soils of Fate justru menyuntikkan nuansa tersebut ke dalam DNA musik mereka. Bukan dalam bentuk rap-metal murahan, bukan dalam bentuk nu-metal, bukan pula dalam bentuk kompromi artistik, melainkan melalui attitude, melalui groove, melalui cara riff bergerak, melalui ritme yang terasa lebih dekat dengan energi jalanan daripada ruang latihan metal tradisional. pendekatan ini membuat " Crime Syndicate " terasa berbeda dari mayoritas BDM Eropa saat itu.
Masuknya Kevin Talley (13 Dead, Busted Guts, Embrace the Dawn, Empires of Euphrates, Feared, Grot, Sylencer, The Bastard Within, ex-Horror of Horrors, ex-Nothnegal, ex-Snipers of Babel, Born of the Storm, ex-Castrofate, ex-Chimaira, ex-Dååth, ex-Decrepit Birth, ex-Dying Fetus, ex-Instigate, ex-Martyred, ex-Misery Index, ex-Power Concept, ex-Relentless Consumption, ex-Six Feet Under, ex-Suffocation, ex-Them, ex-Truth Devoid, ex-WretchedPain, ex-Implore, ex-Consumned, ex-Worlds Divide, ex-All the Way to the Bank, ex-Gath, ex-Knuckle Deep) menjadi salah satu keputusan terbaik yang pernah dibuat band ini. Nama Talley sudah dikenal banget melalui kiprahnya bersama banyak band terutama, Dying Fetus, dan kontribusinya di sini langsung terasa. Permainannya tidak berusaha mencuri perhatian. Ia tidak sedang mengadakan klinik drum, tidak sedang memamerkan teknik, sedang melayani lagu dan itulah yang membuat performanya sangat efektif, Blastbeat terdengar presisi, Groove terdengar berat, transisi mengalir alami, Setiap pukulan terasa memiliki tujuan. tidak ada nada yang terbuang, tidak ada energi yang sia-sia. Drum di album ini menjadi fondasi yang memungkinkan riff-riff Soils of Fate berkembang secara maksimal. Produksi yang Lebih Besar, Lebih Gemuk, Lebih Mematikan Jika " Sandstorm " terdengar bagus, maka " Crime Syndicate " terdengar seperti versi steroidnya. Mix terdengar lebih luas, Low-end lebih tebal, Bass lebih menggigit, Gitar lebih padat dan yang paling penting: snare drum tidak lagi terdengar seperti mesin tik otomatis yang mengalami gangguan saraf. Produksi album ini berhasil menjaga keseimbangan sulit antara kejernihan dan kebrutalan. Setiap instrumen terdengar jelas. Namun tidak kehilangan kekotoran yang menjadi karakter BDM. Ini bukan produksi steril, Ini produksi yang tetap berbau darah dan oli mesin, Kehadiran Ruben Rosas: Monster yang Datang untuk Menghancurkan
Ketika nama Ruben Rosas muncul sebagai tamu, hasilnya hampir mustahil mengecewakan, Dan memang tidak mengecewakan, Suara Rosas memiliki karakter yang langsung dikenali. Begitu ia masuk dalam " Murder Inc. ", atmosfer lagu berubah drastis. Terjadi duel vokal yang membuat lagu tersebut menjadi salah satu momen paling memorable sepanjang album. Kolaborasi ini tidak terasa dipaksakan. Tidak terasa sebagai gimmick. Tidak terasa sebagai strategi pemasaran. Ini terdengar seperti dua monster BDM yang memang seharusnya berada dalam satu ruangan ketika Groove Menjadi Senjata Utama, hal terbesar yang membedakan Soils of Fate dari banyak band brutal death metal lain adalah pemahaman mereka terhadap groove. Banyak band menggunakan groove sebagai variasi, Soils of Fate menggunakan groove sebagai identitas. Riff-riff mereka tidak sekadar berat, Riff-riff mereka bergerak. lagu-lagu dalam album ini tetap menarik bahkan setelah puluhan kali diputar. Terminator 2-nya BDM. Jarang sekali album kedua benar-benar melampaui album pertama, lebih jarang lagi dalam brutal death metal, tetapi " Crime Syndicate " melakukannya, Ini bukan reinvensi, bukan revolusi, ini adalah evolusi yang dilakukan dengan presisi. Semua elemen yang membuat " Sandstorm " menarik masih ada di sini. Hanya saja lebih tajam. Jika " Sandstorm " adalah pernyataan niat, maka " Crime Syndicate " adalah eksekusinya. dan jika banyak sekuel metal terdengar seperti upaya malas memeras kesuksesan rilisan sebelumnya, maka " Crime Syndicate " berdiri sebagai contoh bagaimana sebuah album kedua seharusnya dibuat : Brutal, Groovy & Memorable ". dan cukup kuat untuk mengingatkan kita bahwa terkadang dalam brutal death metal, bukan band yang bermain paling cepat yang menang. melainkan band yang tahu kapan harus membuat seluruh ruangan bergerak serempak mengikuti satu riff mematikan.


Post a Comment