Pyrexia - Sermon of Mockery CD 1993


Pyrexia - Sermon of Mockery
Drowned Productions CD 1993

01 Sermon of Mockery 03:48     
02 Resurrection 02:46   
03 Abominat 04:12   
04 The Uncreation 03:38   
05 God 05:35   
06 Demigod 05:17   
07 Inhumanity 04:00   
08 Liturgy of Impurity 05:07


Darryl Wagner - Vocals
Mike Andrejko - Drums
Chris Basile - Bass
Tony Caravella - Guitars
Guy Marchais - Guitars


Sejarah musik ekstrem sering kali ditulis secara males-malesan oleh penulisnya. Sehingga nama-nama besar tidak begitu mendapatkan seluruh sorotan, sementara para pekerja kasar yang ikut menuang semen fondasi genre dibiarkan terkubur di bawah puing-puing nostalgia. Dalam dunia brutal death metal, semua orang dengan cepat menunjuk Suffocation sebagai nabi pertama, seolah-olah setelah " Effigy of the Forgotten " turun dari langit, seluruh subgenre BDM langsung tercipta begitu saja. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Di antara celah sejarah tersebut berdiri sebuah album yang selama bertahun-tahun kurang mendapatkan penghargaan yang layak: " Sermon Of Mockery " full album perdana Pyrexia, dirilis pada tahun 1993 via Drowned Productions sangat menyita perhatian. Album ini bukan sekadar rekaman BDM bergaya khas NYDM banget !, adalah salah satu mata rantai evolusi yang paling penting dalam perjalanan menuju apa yang hari ini dikenal sebagai slam death metal. Jika Suffocation adalah arsitek brutalitas modern, maka Pyrexia adalah tukang bangunan yang diam-diam memasang balok-balok utama sebelum orang lain menyadari bentuk bangunan yang sedang berdiri. Masalah terbesar yang dihadapi " Sermon Of Mockery " sejak hari pertama adalah nasib buruknya lahir di tempat dan waktu yang sama dengan raksasa bernama Suffocation. Setiap pembahasan mengenai Pyrexia hampir selalu berujung pada kalimat: " Ya bagus sih, tapi bukan " Effigy of the Forgotten " Seolah-olah semua band New York Death Metal pada awal 1990-an diwajibkan menjadi copycat Suffocation agar dianggap relevan. Padahal jika ditelusuri lebih jauh, hubungan keduanya jauh lebih kompleks. Gitaris Pyrexia, Guy Marchais, bahkan pernah menjadi bagian dari formasi awal Suffocation sebelum era Doug Cerrito maupun Terrence Hobbs. Artinya DNA musikal kedua band memang berasal dari sumber yang sama. Namun Pyrexia memilih jalan yang berbeda. Jika Suffocation membangun labirin teknikal yang padat, brutal, dan nyaris tanpa ampun, maka Pyrexia lebih tertarik mengeksplorasi sisi groove, tekanan ritmis, dan breakdown primitif yang kelak menjadi cetak biru slam death metal, di situlah letak nilai sejarah album ini, Ketika Slam Belum Memiliki Nama. 

Saat ini kita hidup di era di mana setiap band slam memiliki gitar tujuh atau delapan senar yang disetel serendah mungkin hingga terdengar seperti ekskavator menabrak tembok beton. Namun pada tahun 1993? Jaman kalian mungkin belum kenal yang namanyta Epicardiectomy, Acranius, Vulvodynia dan belum ada gelombang slam modern yang memenuhi internet. Yang ada hanyalah beberapa musisi New York yang tanpa sadar sedang menciptakan bahasa baru dalam death metal. Dengarkan bagian akhir lagu pembuka " Sermon Of Mockery ". Breakdown berat yang bergerak lambat, aksen pinch harmonic yang menjerit, serta pola groove yang menghancurkan secara ritmis terdengar sangat dekat dengan definisi slam modern. Bahkan beberapa bagian dalam " Resurrection ", " Abominat ", " The Uncreation ", hingga " God " terdengar seperti prototipe awal formula yang nantinya akan dieksploitasi habis-habisan oleh ratusan band BDM generasi berikutnya. Pyrexia mungkin tidak bermaksud menciptakan subgenre baru. Tetapi terkadang sejarah tidak peduli terhadap niat penciptanya. Produksi Yang Kontroversial Namun Berkarakter Keluhan terbesar terhadap album ini hampir selalu mengarah pada produksi. Drum terlalu keras, Snare terlalu dominan, Bass terlalu menonjol, Gitar tenggelam dan ya, semua kritik tersebut tidak sepenuhnya salah. Namun menariknya, justru karakter produksi inilah yang membuat album ini memiliki identitas unik. Alih-alih terdengar steril dan klinis, " Sermon Of Mockery " terasa seperti rekaman ruang bawah tanah yang penuh kelembaban, bau karat, dan dinding beton retak. Drum mendominasi hampir seluruh lanskap sound. Pukulan snare terdengar seperti tong logam yang dilemparkan dari lantai tiga. Bass menggeram di bawah permukaan seperti mesin diesel tua yang siap meledak kapan saja. Sementara gitar bekerja sebagai lapisan penghancur yang mengikat seluruh struktur brutalitas tersebut. Bagi sebagian orang ini adalah kelemahan, Bagi sebagian lainnya, justru inilah alasan album ini terdengar begitu khas, dan BDM Sebelum Menjadi Karikatur.

Salah satu hal paling menarik dari " Sermon Of Mockery " adalah bagaimana album ini lahir sebelum brutal death metal berubah menjadi kompetisi siapa yang bisa terdengar paling rendah, paling cepat, atau paling tidak manusiawi. Di sini brutalitas masih memiliki tujuan musikal. Blast beat digunakan sebagai senjata, bukan sebagai dekorasi permanen. Breakdown muncul pada momen yang tepat. Riff-riff masih memiliki struktur dan identitas. Solo gitar masih muncul tanpa terdengar dipaksakan. Pyrexia memahami bahwa kekerasan musikal jauh lebih efektif ketika memiliki ruang bernapas. Karena itulah banyak bagian album ini masih terdengar segar bahkan setelah lebih dari tiga dekade. Riff-Riff Yang Menjadi Fondasi Generasi Berikutnya Di balik produksi yang kontroversial, album ini sebenarnya menyimpan sejumlah riff yang luar biasa. Tidak serumit Suffocation, tidak se chaotic Immolation, Tidak segelap Incantation Namun memiliki kualitas groove yang sangat kuat. Riff-riff Pyrexia bergerak seperti kendaraan lapis baja. Tidak tergesa-gesa, Tidak pamer, Tetapi ketika menghantam, dampaknya terasa sangat besar. Inilah yang nantinya menjadi DNA utama slam death metal. Bukan sekadar kecepatan. Bukan sekadar teknikalitas, Melainkan kemampuan menciptakan tekanan ritmis yang membuat kepala bergerak secara refleks. Album Yang Terlalu Awal Untuk Dipahami, Ironisnya, salah satu alasan mengapa " Sermon Of Mockery " kurang dihargai mungkin karena album ini datang terlalu cepat. Tahun 1993, sebagian besar pendengar death metal masih terobsesi pada kompleksitas teknikal, kecepatan, dan agresi tanpa kompromi. Konsep groove brutal yang menjadi inti slam belum dianggap sesuatu yang revolusioner. Baru bertahun-tahun kemudian, ketika gelombang brutal death metal dan slam mulai mendominasi bawah tanah global, banyak orang menyadari bahwa Pyrexia sebenarnya sudah menunjukkan peta jalannya sejak awal.

Kesimpulan " Sermon Of Mockery " bukan album yang sempurna. Produksinya dapat memecah pendapat, Beberapa riff memang terasa repetitif, Sebagian lagu tidak memiliki daya ledak sekuat karya-karya terbaik Suffocation. Namun mengabaikan album ini hanya karena tidak seikonik " Effigy of the Forgotten " adalah kesalahan besar dalam memahami sejarah BDM. Album ini adalah dokumen evolusi. Sebuah penghubung penting antara OSDM dan lahirnya Slam Death Metal Modern. Pyrexia mungkin tidak mendapatkan status legendaris sebesar rekan-rekan senegaranya, tetapi pengaruh mereka terdengar di mana-mana. Dari ruang latihan band-band slam Eropa Timur hingga studio brutal death metal modern, gema " Sermon Of Mockery " masih terus bergema. Dan itulah ironi yang paling indah sekaligus paling kejam. Banyak band mengaku menciptakan masa depan. Pyrexia benar-benar melakukannya. Hanya saja dunia baru menyadarinya bertahun-tahun kemudian. Dalam sejarah musik ekstrem, ada album-album yang menjadi legenda karena kualitasnya. Ada pula album yang menjadi legenda karena pengaruhnya. Namun hanya segelintir rekaman yang berhasil menjadi keduanya sekaligus. Salah satu nama yang layak masuk dalam kategori tersebut adalah " Sermon Of Mockery ",  Di dalam lingkaran brutal death metal bawah tanah, album ini bukan sekadar koleksi lagu-lagu berat yang dipenuhi blast beat dan riff brutal. Ia adalah dokumen sejarah. Sebuah artefak sonik yang merekam momen ketika BDM masih berupa makhluk liar yang belum sepenuhnya berevolusi menjadi berbagai cabang ekstrem yang kita kenal hari ini. Ironisnya, meskipun memiliki peran penting dalam perkembangan genre, Pyrexia sering kali hidup di bawah bayang-bayang nama yang lebih besar seperti Suffocation, Internal Bleeding, atau bahkan generasi berikutnya seperti Devourment. Seolah-olah sejarah hanya memberi ruang bagi beberapa pemenang, sementara para arsitek lainnya dipaksa berdiri diam di sudut ruangan sambil melihat hasil kerja mereka diklaim oleh generasi penerus. Padahal jika kita berbicara secara objektif, tanpa " Sermon Of Mockery ", peta evolusi BDM dan slam death metal kemungkinan besar akan terlihat sangat berbeda.

Ketika Brutal Death Metal Masih Menjadi Wilayah Perang, Tahun 1993 bukanlah era ketika brutal death metal memiliki identitas yang jelas. Belum ada formula baku. Belum ada ratusan band yang berlomba-lomba menurunkan tuning gitar hingga terdengar seperti mesin bor tambang batu bara. Belum ada festival yang dipenuhi breakdown demi breakdown tanpa arah. Saat itu semua masih mentah, Masih liar dan masih berbahaya. Pyrexia muncul tepat di tengah masa transisi tersebut. Mereka mengambil fondasi yang dibangun oleh gelombang awal death metal New York dan mulai mendorongnya menuju sesuatu yang lebih berat, lebih groovy, dan jauh lebih barbar. Jika Suffocation adalah profesor gila yang mengembangkan teori brutal death metal melalui teknikalitas yang kompleks, maka Pyrexia adalah preman jalanan yang membuktikan teori tersebut dengan memukul kepala pendengar menggunakan balok beton. Groove Sebelum Slam Menjadi Industri, salah satu alasan mengapa " Sermon Of Mockery " terdengar begitu penting hingga hari ini adalah karena album ini memprioritaskan groove jauh sebelum istilah "slam death metal" menjadi label yang populer. Riff-riff dalam album ini tidak selalu bergerak dengan kecepatan gila. Mereka justru mengandalkan tekanan ritmis. Chugging yang berat. Palm-muted riff yang lambat namun menghancurkan. Breakdown yang terdengar seperti bangunan tua runtuh secara perlahan. Apa yang sekarang dianggap sebagai DNA utama slam death metal sebenarnya sudah tertanam di sini sejak awal. menghadirkan pola ritmis yang puluhan tahun kemudian akan menjadi standar bagi ribuan band brutal death metal modern. Perbedaannya? Pyrexia melakukannya ketika belum ada buku panduan. Produksi Kasar yang Justru Menjadi Senjata

Salah satu topik paling kontroversial mengenai album ini adalah produksinya. Hingga hari ini masih banyak orang yang mengeluhkan dominasi drum dalam mixing. Snare terlalu keras. Kick drum terlalu menonjol, Cymbal tenggelam, Gitar terkadang terdorong ke belakang, Namun kritik tersebut sering kali mengabaikan satu hal penting. Karakter ! " Sermon Of Mockery " tidak terdengar steril. Tidak terdengar modern. Tidak terdengar dipoles untuk memenuhi standar algoritma streaming masa kini. Album ini terdengar kotor, Padat, Sesak dan sangat tidak nyaman, Justru itulah kekuatannya. Setiap instrumen terasa seperti bertarung memperebutkan ruang dalam spektrum suara. Hasilnya adalah atmosfer yang brutal dan menyesakkan, seolah pendengar dikurung di ruang bawah tanah yang penuh beton retak dan karat. Banyak album brutal death metal modern terdengar lebih bersih. Namun sangat sedikit yang mampu terdengar sejahat ini. Gitar: Mesin Penghancur yang Tidak Mengenal Belas Kasihan Salah satu aspek terbaik dari album ini adalah permainan gitarnya. tidak terlalu teknis, tidak terlalu progresif, tidak berusaha menjadi rumit demi terlihat pintar, sebaliknya, Pyrexia memahami satu prinsip sederhana: Jika sebuah riff bisa menghancurkan tengkorak pendengar, maka riff tersebut sudah melakukan tugasnya. Sepanjang album, gitar bergerak antara groove lambat yang menghancurkan dan tremolo riff cepat yang menciptakan tekanan konstan. Ketika tempo melambat, muncul momen-momen yang hampir menyerupai cikal bakal slam modern, ketika tempo meningkat, brutalitas berubah menjadi serangan frontal tanpa ampun. Yang sering terlupakan adalah banyaknya permainan lead dan solo gitar yang tersebar sepanjang album. Mereka mungkin tidak seikonik solo-solo Trey Azagthoth atau James Murphy, tetapi berhasil menambahkan nuansa gelap dan jahat yang memperkaya keseluruhan atmosfer album. Vokal Dari Kedalaman Lubang Neraka, Vokal dalam " Sermon Of Mockery " adalah salah satu elemen yang membuat album ini menua dengan sangat baik, tidak terlalu rendah hingga kehilangan artikulasi, tidak terlalu tinggi hingga terdengar karikatural, sebaliknya, vokalnya berada di titik tengah yang sempurna. Terdengar seperti seseorang yang telah menghabiskan hidupnya menghirup asap knalpot dan mengunyah kawat berduri. Growl yang dalam dan mengancam tersebut menyatu sempurna dengan instrumentasi yang padat, menciptakan kesan bahwa seluruh album adalah satu monster besar yang sedang berbicara. 

Lucunya, elemen yang paling sering dikritik justru menjadi salah satu alasan mengapa album ini begitu mudah dikenali. Drumnya, Banyak orang menganggap suara drum terlalu dominan. Namun jika diperhatikan lebih teliti, permainan drum di album ini luar biasa solid. Blast beat memang hadir, tetapi tidak mendominasi secara berlebihan. Pyrexia lebih tertarik membangun groove daripada sekadar mengejar kecepatan. Double bass yang menghantam tanpa henti berpadu dengan pola ritmis yang memantul dan mengayun, menciptakan dinamika yang membuat lagu-lagu tetap hidup. Breakdown terasa berat karena fondasi drumnya kuat. Transisi tempo terasa alami karena permainan drumnya presisi. Bahkan ketika tidak bermain cepat, drum tetap menjadi mesin penggerak utama yang menjaga momentum brutalitas album. Blueprint Yang Kemudian Dicuri Generasi Berikutnya, jika ada satu alasan mengapa " Sermon Of Mockery " wajib dipelajari oleh setiap penggemar brutal death metal, maka alasannya sederhana. Album ini membantu membangun blueprint. Apa yang dilakukan Pyrexia pada tahun 1993 kemudian menjadi inspirasi bagi puluhan bahkan ratusan band yang muncul setelahnya. Mulai dari gelombang awal Internal Bleeding dan Devourment hingga generasi modern seperti Acranius, Epicardiectomy, Extermination Dismemberment dan berbagai band slam kontemporer lainnya Banyak elemen yang kini dianggap standar dalam slam death metal sebenarnya sudah muncul di sini dalam bentuk paling primitif dan paling jujur. Tidak Sempurna, Tetapi Sangat Penting Apakah album ini sempurna? Tidak.

Mixing yang kurang balance antara gitar dan ritme memang dapat mengurangi daya pukul beberapa riff, beberapa bagian terdengar sedikit keruh dibandingkan standar produksi terbaik era tersebut, dan memang benar, dari sisi teknikalitas album ini tidak mampu menyaingi pencapaian Suffocation, namun kesempurnaan bukanlah alasan mengapa album ini terus dibicarakan lebih dari tiga dekade kemudian, pengaruhnya lah alasannya, Keberaniannya lah alasannya. Dan kemampuan album ini untuk tetap terdengar brutal, relevan, dan menyenangkan setelah lebih dari 30 tahun adalah alasan terbesar mengapa banyak kolektor masih memburu CD asli rilisan 1993 layaknya artefak suci. " Sermon Of Mockery " adalah salah satu album paling penting dalam sejarah brutal death metal Amerika. Ia bukan sekadar rekaman lawas yang dihormati karena nostalgia. Ia adalah fondasi. Sebuah penghubung antara old-school death metal dan ledakan slam death metal yang akan datang bertahun-tahun kemudian. Brutal, Groovy, Kasar, Jahat dan tanpa kompromi. Jika Suffocation menulis kitab sucinya brutal death metal, maka Pyrexia menulis bab pertama tentang bagaimana groove, slam, dan kebrutalan dapat hidup berdampingan dalam satu bentuk yang sangat mematikan. Tiga dekade kemudian, khotbah itu masih terdengar nyaring. Dan tengkorak para pendengar masih terus menjadi korbannya.


Post a Comment

Previous Post Next Post